Dari
Redaksi :
Di
tengah-tengah berkecamuknya perpecahan dan peperangan di mana-mana yang sedang
terjadi sekarang, kiranya pidato J.Krishnarnurti yang telah diucapkan pada
tahun 1969, masih belum "basi" bila kami cetak ulang kembali
sekarang, pada tahun 1978. Semoga ada gunanya untuk direnungkan.
Ceramah
& Diskusi di Brockwood 1969
Saya
rasa seharusnya saya duduk di lantai, bersama anda sekalian, daripada di atas
mimbar ini. Karena pertama-tama hendaknya dipahami bahwa kedudukan ini bukanlah
berarti kewibawaan (otoritas). Saya duduk di sini tidak sebagai tukang khotbah
dari kota Delphi, Yunani, yang meletakkan undang-undang atau berusaha
meyakinkan kebenaran suatu sikap, perilaku atau pikiran tertentu.
Tetapi karena kita
berkumpul di sini dengan kesungguhan hati, dan dari jauh dengan susah payah,
kita telah datang kemari. Maka kita perlu mencari tahu, mengapa manusia di
seluruh dunia, hidup dalam pengasingan terpecah-belah oleh
kepercayaan-kepercayaan, kesenangan-kesenangan, masalah-masalah dan cita-cita
mereka yang tertentu. Kita mendapatkan mereka sebagai anggota dari
berbagai-bagai golongan, komunis, sosialis, Kristen, Hindu dan Buddha, bahkan
memisahkan diri dalam berbagai sekte, dengan dogma masing-masing.
Mengapa
kita hidup dengan rasa mendua (dualitas), yang bertentangan satu sama lain, di
semua bidang kehidupan, sehingga menimbulkan konflik dan perang? Hal mana telah
menjadi pola tingkah-laku manusia seluruh dunia, barangkali semenjak dulukala.
Dengan rasa memisahkan diri, orang membeda-bedakan kaum seniman, tentara,
musikus, ilmuwan, pedagang dan apa yang dinamakan kaum agama. Dengan cara di
atas, walaupun mereka berbicara tentang cinta dan perdamaian dunia, hal itu
tidak akan terlaksana. Dengan cara memisahkan diri mereka pasti akan perang.
Apakah peristiwa semacam ini akan berlangsung terus?
Sebagai
manusia yang sungguh-sungguh prihatin, mungkinkah kita mencegahnya dengan hidup
bersatu, tidak mendua? Tidak sekedar cita-cita atau teori, melainkan
benar-benar menghayati hidup jasmani dan rohani. Mungkinkah anda dan saya,
menghayati hidup tanpa dualitas, tidak dalam kata-kata saja melainkan juga
dalam lubuk hati? Jika hal ini tidak rnungkin, maka pasti kita meneruskan
peperangan, sambil memegang teguh pendapat, kepercayaan, dogma dan kesimpulan
kita masing-masing. Dengan demikian tidak pernah ada komunikasi dan kontak yang
sejati.
Dalam
pertemuan ini, benar-benar kita dihadapkan dengan masalah di atas, tidak secara
gagasan, melainkan secara aktuil. Salah satu masalah yang besar adalah
persatuan manusia, mungkinkah itu? Dapatkah seseorang seperti anda dan saya,
menghayati hidup tanpa rasa mendua, dalam mana semua pendapat,
kepercayaan
dan kesimpulan tidak memecah-belah manusia, dan menimbulkan pertentangan. Jika
pertanyaan tersebut, dengan sepenuh hati, kita ajukan kepada diri kita sendiri,
bagaimanakah jawaban kita? Dapatkah kita bersama-sama meneliti secara bebas
masalah ini sekarang?
Komunikasi
dan relasi selalu jalan bersama. Kalau tidak ada komunikasi tidak ada pula
relasi. Tidak hanya antara anda dan si pembicara, melainkan juga antara diri
anda sendiri. Bila kita bertahan pada latar kata-kata (harfiah? Red.), yakni tingkat
yang formil (resmi), maka komunikasi tetap dangkal, hingga tidak bisa meneliti
sedalam-dalamnya. Tetapi untuk dapat berkomunikasi di luar batas kata-kata,
memerlukan hilangnya rasa mendua, yang memisahkan diri kita, sebagai
"aku" dan "kamu", "kami" dan "mereka",
kaum Katholik dan kaum
Protestan
dan sebagainya." Maka agar kita dapat meneliti kemungkinan hidup tanpa
memisahkan dan membedakan diri, hendaklah kita menyadari diri sendiri.
Sebab keadaan dunia
adalah sama dengan keadaan kita. Dunia tidaklah terpisah dari kita; masyarakat
atau kelompok, tidaklah terpisah dari setiap orang. Kita adalah masyarakat dan
dunia. Tapi walaupun kita menyatakan bahwa kita adalah dunia, benarkah kita
menghayati hal itu?
Untuk
meneliti masalah di atas, mau tidak mau kita harus rnenyadari struktur dan
sifat diri kita sendiri. Tidak hanya sifat batin kita, melainkan juga sifat
lahir kita, yang memisahkan diri sebagai orang Inggris atau orang Perancis.
Pendapat-pendapat dan kesimpulan-kesimpulan apapun, menimbulkan perpecahan dan
pengasingan, sama halnya dengan kepercayaan agama. Dipandang dari sudut
lahiriah, duduk saya di atas mimbar ini, menimbulkan perbedaan. Di dalam batin
pun terdapat bermacam-macam corak perbedaan dan pemisahan, yang inti asalnya
dari si "aku" atau diri-sendiri, yang dibentuk oleh pikiran. Maka
dapatkah kita memahami, kemudian mengatasi, proses mengasingkan diri dari si
"aku" ini, lahir dan batin. Saya kira inilah masalah yang lebih besar
daripada masalah ekonomi. Karena walaupun di dalam negara maju dan makmur ini,
dengan segala jaminan sosialnya, masih kita ketemukan rakyatnya terpecah-belah
dan terasing. Masing-masing berjalan dengan caranya sendiri, dan terbenam dalam
persoalannya sendiri.
Maka
dengan menyadari diri, lahir dan batin, dapatkah proses mengasingkan diri yang
bertentangan ini, benar-benar dipecahkan? Ini memang sangat rumit; karena sifat
pikiran itu sendiri ialah memecah-belah, membuat belahan yang
berupa, sesuatu yang mengamati dan sesuatu yang diamati, yang mengalami dan
yang dialami, yang menanggapi dan yang ditanggapi.
Antara
belahan itu terdapat ruang celah antar yang mengamati dan yang diamati.
Pembelahan itu ditimbulkan oleh pikiran. Saya tidak mengatakan secara dogmatic
(mutlak dipercaya saja), tapi setiap orang dapat mengamatinya, mencobanya dan
mengajinya sendiri. Sebagaimana telah kita katakan, bahwa selama ada pemisahan
tidak akan ada komunikasi. Dan apa yang kita anggap sebagai cinta pun, jika ia
berasal dari pikiran atau terkurung oleh pikiran, ia akan memecah-belah.
Apabila
kita menyadari akan semua hal ini, lantas apakah yang hendak kita lakukan, dan
bagaimana kita melakukannya? Memang pikiran harus dikerjakan menurut akal yang
sehat, bijaksana dan sempurna, namun tidak menimbulkan perpecahan. Bila ada
cinta murni, di situ tidak terdapat pikiran yang memecah-belah, memisahkan dan
membedakan. Maka bagaimanakah kita harus hidup dalam dunia yang sama-sekali
terpecah-belah, menjunjung tinggi perbedaan dan pemisahan? Bagaimanakah kita
harus menghayati hidup yang selaras (harmoni) lahir dan batin?
Pada
saat kita mempunyai suatu rumus (formula) atau sistim, maka rumus atau sistim
itu sendiri memecahbelah, sebagai sistim anda dan sistim saya. Jadi pertanyaan
"bagaimana" tidak dapat diterapkan di sini. Pada saat saya menanyakan
pada diri-sendiri "bagaimanakah saya harus hidup dengan penuh cintakasih,
dan bagaimanakah saya harus berlaku tanpa menimbulkan perpecahan?"
Kata-kata "bagaimana" itu mengandung suatu metoda atau sistim, yang
berarti jika kita melakukan suatu perbuatan, kita akan mencapai suatu hasil
tertentu. Dalam hal ini keadaan hidup harmonis dan tidak mendua. Maka kata-kata
"bagaimana" itu melahirkan perpecahan, yaitu di satu pihak terdapat
gagasan harmoni, suatu formula (rumus) atau ideologi yang kita anggap
keselarasan hidup sebagai tujuan terakhir. Di pihak lain terdapat keadaan kita
yang sebenarnya, yang melalui jalan "bagaimana" sebagai sarana untuk
mencapai cita-cita lita. Dengan demikian kata-kata "bagaimana" itu,
serta merta melahirkan perpecahan antara "apa adanya" dan "apa
yang dikehendaki".
Jikalau
kita dapat membuang pertanyaan "bagaimana", yang mengandung metoda
dan sistim itu, maka gagasan atau cita-cita dari "apa yang
dikehendaki" lenyap lama sekali. Yang tinggal hanyalah "apa
adanya". "Apa adanya" itulah fakta cara hidup kita yang
memecah-belah dan membeda-bedakan. Inilah keadaan yang sesungguh-sungguhnya.
Mungkinkah, fakta ini dirobah menjadi sesuatu yang nondualistik? Dapatkah kita
melihat saja kebenaran hidup kita yang dualistik, memisahkan dan mengasingkan
diri? Sekalipun kita menyatakan cinta kepada isteri kita, toh kita memisahkan
diri, karena ambisi, keserakahan dan iri hati kita, yang membangkitkan
permusuhan dan kebencian. Demikianlah faktanya.
Sekarang
dapatkah kita menanggapi fakta itu secara bulat, tidak mendua? Yaitu daripada
memandang kenyataan itu sebagai sesuatu yang terpisah dari kita, maka dapatkah
kita menanggapinya tanpa pemisahan? Dapatkah kita melihat, sebagai juru lihat,
yang ingin merobah apa yang dilihatnya? Dapatkah kita mengamati faktanya saja,
tanpa pendapat, kesimpulan, prasangka, suka atau benci, kecewa dan putus asa?
Amatilah saja, tanpa reaksi pikiran terhadap hal yang diamatinya. Saya rasa
kesadaran yang benar adalah pengamatan yang peka semacam itu, sehingga seluruh
jiwa kita yang amat bersyarat, dibebani berat dengan kesimpulan-kesimpulannya,
gagasan-gagasannya, kesenangan-kesenangannya, benar-benar hening, namun waspada
terhadap yang diamatinya. Saya rasa hal ini sudah jelas.
Kita
melihat apa yang sedang terjadi di dunia, perpecahan politik dan agama yang tak
henti-hentinya, perang yang berlangsung sepanjang masa, tidak sekedar antara
perseorangan, melainkan seluruh dunia. Sementara itu, kita ingin hidup dengan
penuh damai, karena kita sadar bahwa konflik macam apapun tidak kreatif, tidak
pula merupakan tanah subur untuk berkembangnya kebajikan. Padahal dunia adalah
satu badan dengan saya, saya adalah dunia. Saya telah membentuk
dunia, dan dunia telah membentuk saya. Saya adalah bagian dari masyarakat,
sedang masyarakat itu, sayalah yang membentuknya.
Mungkinkah
kita menghayati hidup tanpa proses mengasingkan diri di segala waktu. Oleh
karena setelah hal di atas terjadi, barulah kita dapat hidup damai, tidak
malas-malasan, tetapi waspada, penuh perhatian dan peka sekali.
Dengan
jalan apa hendak kita lakukan, dalam kehidupan sehari-hari yang bebas dari
perpecahan? Yaitu kita ingin berlaku, berbicara dengan kata-kata, yang tidak
menimbulkan perpecahan antara anda dan saya. Sudah barang tentu hal itu hanya
mungkin dengan kesadaran total, kepekaan penuh terhadap kejadian di dalam lahir
dan batin. Yaitu cara kita berbicara, berikut kata-kata yang kita pakai, sikap
dan tingkah laku yang kita peragakan. Kesadaran demikian itu memerlukan banyak
energi (daya kekuatan). Punyakah kita energi itu? Kita mengerti bahwa banyak
energi dibutuhkan untuk waspada, sadar dan peka. Untuk memahami kehidupan yang
bertentangan, mendua, memecah-belah, membutuhkan banyak energi. Bagaimana
energi ini bisa didatangkan? Walaupun kita tahu bahwa kita memboroskan energi
dalam percakapan yang tidak berguna, dalam melayangkan macam-macam gambar
pikiran, mengenai seks dan lainnya. Kita juga memboroskan energi dalam ambisi
dan persaingan, yang menjadi sifat hidup dualistik dan latar dasar bentuk
masyarakat.
Maka
dapatkah jiwa dan batin kita, yakni si "aku", menyadari semua hal ini
setara total? Inilah sungguh-sungguh meditasi, kalau saya boleh memakai
kata-kata ini agak ragu-ragu, yaitu batin kita menyadari dirinya sendiri
tanpa melahirkan subyek yang melihat ke dalam. Hal mana hanya mungkin terjadi,
apabila tak terdapat ideologi dan tak terdapat keinginan mencapai hasil, yang
berarti tidak ada jangka waktu. Jangka waktu dalam perkembangan
(evolusi) timbul bila terdapat dualitas dari "apa adanya" dan
"apa yang dikehendaki ".
Dan semua usaha
dengan susah payah untuk mencapai keadaan yang dikehendaki adalah pemborosan
tenaga (energi) yang besar. Dapatkah kita melihat dan menyadari saja, bahwa
pikiran kita juga tidak bisa memahami dan mengatasinya? Oleh karena pikiran itu
dapat mengatasi keadaan yang ada, dengan merencanakan gagasan bagaimana ia
seharusnya, dan mengharapkan tercapainya gagasan itu. Akan tetapi untuk
menaklukkan "apa adanya", membutuhkan jangka waktu, setindak demi
setindak, lambat laun, setiap hari.
Jelaslah
jalan pikiran itu sendiri, menimbulkan perpecahan dan pemisahan. Saya
rasa, apa yang dapat dilakukan oleh pikiran, ialah mengawasi saja dan menyadari
sepenuhnya, tanpa ingin menaklukannya. Tiada lain kita harus menyadari
saja proses dualistik ini yang berlangsung terus-menerus. Misalnya
timbul
kebencian, marah atau ambisi, sadarilah saja jangan coba merobahnya. Begitu
lekas kita mencoba untuk merobahnya. Begitu lekas kita mencoba untuk
merobahnya, muncullah si "aku" yang ingin merobah. Tetapi bila kita
dapat mengamati kebencian atau ketakutan, tanpa ada yang mengamati, maka
seantero rasa perpecahan, jangka waktu dan usaha mencapai hasil, lenyap sama
sekali. Kemudian kita bisa hidup dalarn alam rohani dan jasmani, tanpa perpecahan
yang bertentangan.
Marilah kita teliti
hal ini dalam acara tanya-jawab.
Penanya
: Jika
anda ingin hidup damai dalam diri sendiri, namun anda merasa sebagai
anggota masyarakat, anda bertanggung jawab atas apa yang tengah terjadi di
dunia kini; bagaimanakah anda dapat hidup damai atau bahagia, dengan
menyaksikan hal-hal yang menyayat hati mengenai kejadian yang sedang terjadi
itu?
Krishnamurti
: Tiada
lain saya harus merobah diri-sendiri. Saya harus benar-benar merobah diri saya
sendiri seluruhnya. Mungkinkah itu? Selama saya menganggap diri saya sebagai
seorang Inggris, Hindu, atau sebagai anggota suatu golongan atau umat agama
tertentu, atau selama saya menyetujui suatu kepercayaan, kesimpulan atau
ideologi, maka saya akan terus membantu kekacauan dan kegilaan yang terjadi di
sekeliling saya. Dari itu, dapatkah saya melepaskan konklusi-konklusi,
prasangka-prasangka, kepercayaan-kepercayaan dan dogma-dogma tanpa usaha?
Apabila saya berusaha, saya segera kembali pada kehidupan yang dualistik. Maka
dapatkah jiwa dan raga saya benar-benar tidak lagi menjadi seorang Hindu?
Mungkinkah saya melenyapkan rasa-rasa bersaing, menilai hidup menurut
tingkatan, membandingkan diri-sendiri dengan orang lain, yang lebih pintar,
lebih kaya, atau lebih cemerlang? Sebelum hal-hal itu dilakukan, saya masih
terrnasuk bagian dari kekacauan dunia ini. Perobahan semacam itu, bukanlah soal
waktu, melainkan harus terjadi dengan segera sekarang. Kalau saya memutuskan
untuk merobah perlahan-lahan, jatuhlah saya ke dalam perangkap perpecahan lagi.
Jadi
apakah batin kita mampu mengamati fakta, bahwa kita ini suka bersaing, mengejar
kepuasan berikut segala kekecewaan, ketakutan dan putus asa.
Apakah kita dapat
menanggapinya sebagai sesuatu yang benar-benar berbahaya? Pada waktu kita
melihat sesuatu yang sangat berbahaya, kita lantas bertindak. Misalnya
menghadapi jurang yang curam, kita tidak berkata "Saya akan bertindak
perlahan-lahan dan memikirkannya dulu", tapi kita lantas menghindari
jurang itu. Apakah kita juga sungguh-sungguh melihat bahaya dari perpecahan,
yaitu anda tergolong pada kaum yang satu, sementara saya tergolong pada kaum
yang lain. Masing-masing mempunyai kepercayaan, kesukaan, kesusahan dan
persoalan sendiri. Sepanjang keadaan terpecah-belah ini berlangsung, pasti
hidup kita dalam kekacauan. Maka masalahnya ialah, mungkinkah diadakan
perobahan total yang benar-benar, di tengah kita hidup
dalam
dunia yang gila, menyedihkan dan mengecewakan, hanya kadang-kadang saja kita
merasa girang melihat keindahan awan dan bunga.
Penanya
: Meminta
kita untuk menyadari dengan tenang pada "apa adanya" rasanya
terlampau berat, barangkali di luar kesanggupan kita untuk bertahan dalam satu
jangka waktu, tanpa keinginan melarikan diri.
Krishnamurti
: Bila
kita tidak menghadapi sesuatu, kita harus meninggalkannya sebentar.
Barangkali kita melihat terlalu banyak implikasi (kaitannya) dari keadaan yang
ada sehingga kita tak dapat mencurahkan perhatian penuh terus menerus. Dan
sekali-sekali kita memerlukan istirahat, dengan rasa acuh-tak acuh. Bukankah
demikian halnya? Jika kita tidak tahan menghadapi sesuatu, kita harus
meninggalkannya sebentar untuk beristirahat. Namun dalam istirahat itu,
perhatikanlah acuh tak acuh kita itu. Misalnya kita cemburu, yakni kejadian
yang umum, kita menaruh perhatian penuh untuk menelitinya. Sehingga menemukan
kaitan-kaitannya berupa kebencian, ketakutan, keinginan memiliki dan menguasai,
mengurung diri, kesepian dan berasa terpencil: Dan kita melihatnya tidak secara
mendua (dualistik). Bila kita mencurahkan penuh perhatian, kita akan
benar-benar memahami seanteronya (seluruhnya) sehingga tidak perlu
beristirahat. Oleh karena kita mengerti benar bahaya seluruhnya, dengan
sendirinya kita meninggalkannya. Kecuali bila kita tidak mencurahkan seluruh
perhatian kita, maka kita merasa jemu dan berkata : "Saya harus mengaso
dari urusan yang buruk ini", lalu melarikan diri. Dalam melarikan diri,
tidak terdapat perhatian, maka kita menyarankan, hendaknya kita sadar atas
hilangnya perhatian itu, yang merupakan acuh-tak-acuh. Tinggalkanlah soal
cemburuan kita, dan sadarilah sisa acuh-tak-acuh itu, tatkala kita melarikan
diri. Sehingga acuh-tak-acuh itu menjadi perhatian yang mempertajam mata batin
kita. ****
No comments:
Post a Comment